HOME  |   Riwayatku  |  Photoku  |  Kata Mutiaraku |  Search Colour  |
Hidup Adalah Perjuangan !
Sunday, October 24, 2004
 
10 KUALITAS PRIBADI YANG DISUKAI
1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada,pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.


2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.


3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.


4. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.


5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.


6. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.


8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.


9. Orang yang "Easy Going" menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.


10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.


Semoga bermanfaat bagi Anda.

- posted by Ahmad @ Sunday, October 24, 2004
 
10 KUALITAS PRIBADI YANG DISUKAI
1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada,pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.


2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.


3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.


4. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.


5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.


6. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.


8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.


9. Orang yang "Easy Going" menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.


10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.


Semoga bermanfaat bagi Anda.

- posted by Ahmad @ Sunday, October 24, 2004
 
Aku ingin menciumu ibu
"dari seorang anak perempuan kepada ibunya"

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.
Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat
saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
- posted by Ahmad @ Sunday, October 24, 2004
Sunday, September 12, 2004
 
Kembali & JADILAH DIRI ANDA SENDIRI
Wach Rindunya... ngeposting lagi, ternyata penampilan bloggernya dach berubah lagi... hhmmm begitu lamanya...
Oh iya sepertinya sy jarang ngepost nih paling seminggu sekali...
walaupun demikian yang penting optimal iya gak :)? siip dech ...

Beginilah kalo dach kerja di bagian lapangan...
ngorder terusss ... ^_^

jadi kangen nih sama blogger mania...

Diari hari ini...
tadi pagi sy futsal sama ikhwah seperjuangan, duch capeknya...:(
padahal baru juga jum'at malem 2 hari kemarin futsal juga bersama dengan anak-anak remaja masjid... wach pegelnya nih... masih berasa...
enaknya di pijitin pake minyak telon gitu yach...?hehe...
wach 5 L dech.. but tetap semangat because siangnya sy ada acara rutin tal'im dengan mad'u mesti fit...
dach beres ...
lalu cabut ke wrt freeland sekalian OL :) ngisi blog dech ^_^


JADILAH DIRI ANDA SENDIRI

Jangan "berpura-pura" dalam berhubungan, percuma dan tidak akan ada hasilnya.
Ada empat kualitas utama dari seseorang, entah itu pria/wanita, yang bisa membuat orang lain tertarik:
1. autentik (asli)/asliyah
2. dapat di percaya/amanah
3. genuine (tulen/rajin)/fatonah
4. tidak plin-plan alias konsisten/istiqomah

Pria dan wanita yang bisa di percaya, selalu jujur dan menjadi dirinya sendiri, akan dapat menikmati kehidupan dan akhirnya menemukan CINTA SEJATINYA!

Sebuah lonceng belum dapat disebut lonceng apabila belum dibunyikan. Sebuah lagu belum dapat disebut lagu apabila belum dinyanyikan. Cinta kasih belum dapat disebut cinta kasih apabila hanya disimpan dalam hati tanpa dibagikan, artinya hubungan itu akan terasa nikmatnya jika sudah berada dalam naungan pernikahan, sudah syah, halal, dan thoyib eh apa lagi ya? berkah dan dirahmati ^_^

wassalam




- posted by Ahmad @ Sunday, September 12, 2004
Sunday, May 02, 2004
 
Zikrullah
Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdzikir atau untuk selalu mengingat Allah SWT dalam kondisi apapun. Baik dalam keadaan berdiri maupun duduk maupun berbaring, baik dalam keadaan senang maupun susah. Karena dengan mengingat Allah SWT hati kita akan menjadi tenang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi:

Yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah –lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dalam ayat ini seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada kita: ketahuilah! Hanya dengan berdzikir kepada Allah , maka pasti hatimu akan tenang. Karena yang mengatakan ini adalah Allah SWT, berarti ini aksioma langit (ketentuan mutlak) yang tidak dapat ditawarkan lagi.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari).
Demikian pentingnya kita untuk selalu mengingat Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT mengumpamakan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati. Na’udzubillahi min dzalika.


Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata diatas mimbar, bukan juga sekedar komat kamit sebagai gerak mulut saja, bukan sekedar duduk di masjid ataupun duduk di tengah malam sambil melafazkan kalimat-kalimat tertentu dengan menggunakan butiran-butiran tasbih. Namun lebih dari itu, dzikir merupakan pengalaman ruhani yang dapat dinikmati oleh pelakunya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai penentram hati. Pada hakekatnya dzikir dapat dijadikan empat macam. Pertama: Dzikir Qolbiyah, dzikir ini adalah merasakan kehadiran Allah, dalam melakukan apa saja ia meyakini akan kehadiran Allah SWT bersamanya sehingga hatinya selalu tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun. Allah SWT maha melihat, maha mendengar, lagi maha mengetahui. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, seberat atom pun yang di langit maupun di bumi. (QS. Saba’: 3). Dzikir qalbiyah ini lazim disebut ihsan. Rasulullah SAW bersabda tentang arti ihsan, yaitu:

Artinya: (Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak melihat-Nya tapi sesungguhnya Dia melihatmu. (Hadits Muttafaqun ‘alaih).
Dengan dzikir qalbiyah kita memfungsikan mata hati kita dan menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi kita. Jika kita sudah mencapai pada kesadaran ini, maka akan menimbulkan dampak yang besar. Pertama: hati akan selalu bersih. Kedua: apapun yang kita kerjakakan akan menjadi ibadah dan ketiga: kita akan memperoleh nilai dalam hidup ini, yakni keridhoan Allah SWT, karena apapun yang kita kerjakan kalau bukan karena Allah SWT, maka mestilah sia-sia atau bahkan bisa disebut rugi.

Dzikir yang kedua: Dzikir Aqliyah, adalah kemampuan menangkap bahasa Allah SWT dibalik setiap gerak alam semesta ini. Menyadari bahwa semua gerakan alam, Allah lah yang menjadi sumber gerak dan yang menggerakkannya. Alam semesta ini adalah sekolah dan tempat belajar kita. Segala ciptaan-Nya dengan segala proses kejadiannya, adalah proses pembelajaran kita. Segala ciptaan-Nya yang berupa batu, sungai, gunung, udara, pohon, manusia, hewan dan sebagainya merupakan pena Allah SWT yang mengandung qalam-Nya (sunnatullah) yang wajib kita baca. Kalau kita jeli memahami Al-Quran, sesungguhnya kita hidup di bumi nan luas ini, yang pertama kali di perintahkan adalah membaca (Iqra). Yang wajib kita baca ada dua wujud, yakni alam semesta (ayat kauniyah) termasuk di dalamnya diri kita (manusia) dan Al-Quran (ayat Qauliyah). Dengan kesadaran dan cara berfikir ini, maka setiap kita melihat suatu benda (ciptaan-Nya) pada saat yang sama kita akan melihat keagungan, kebesaran dankekuasaa Allah SWT, inilah yang merupakan puncak dan hasil dari dzikir aqliyah.


Dzikir yang ketiga: Dzikir lisan, ini adalah buah dari dzikir hati dan akal. Setelah melakukan dzikir hati dan akal, barulah lisan berfungsi untuk senantiasa berdzikir, selanjutnya lisan berdo’a dan berkata-kata dengan benar, jujur, baik dan bermanfaat. Orang yang merasa hatinya hadir di hadapan Allah SWT dan sadar bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan-Nya disebut muraqabah. Dengan muraqabah akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Dengan melakukan muraqabah dan muhasabah, kita akan menemukan hikmah. Inilah yang merupakan tujuan akhir dari dzikir lisan, yaitu menemukan hikmah dibalik semua ciptaan Allah SWT setelah merasakan kehadiran-Nya dan befikir tentang semua ciptaan-Nya. Kalau kita tidak melakukan dzikir lisan, maka hati dan pikiran kita akan tumpul dan mudah di bisiki oleh bisikan-bisikan syetan yang akan merenggut ketenangan hati.

Dzikir yang keempat: Dzikir amaliyah, sebenarnya cita-cita kita semua adalah dzikir amaliyah, dan ini sebenarnya goal atau tujuan yang kita inginkan dari dzikir. Setelah hati kita berzikir, akal kita berzikir, lisan kita berdzikir, maka akan lahirlah jiwa-jiwa serta pribadi-pribadi yang suci, pribadi-pribadi yang berakhlaq mulia, baik secara lahir maupun bathin. Dari pribadi-pribadi tersebut akan lahirlah amal-amal shaleh yang diridhoi oleh Allah SWT, sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang takut serta bertaqwa kepada Allah SWT. Kalau sudah demikian maka akan dibukakan oleh Allah SWT pintu-pintu berkah dari langit maupun dari bumi. Sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk di negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat dan hukum-hukum kami) itu, maka kami siksa (adzab) mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raaf: 96)

Demikianlah janji Allah kepada kaum yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dengan meningkatkan dzikir kita kepada Allah SWT, insya Allah akan dapat kita raih predikat taqwa yang pada akhirnya akan melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT.


Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta’atan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama.

Wallahu a'lam bissowab

Ahmad Zaki


- posted by Ahmad @ Sunday, May 02, 2004
Saturday, March 20, 2004
 

NICE CALLIGRAPHY


Subhanallah !!!

- posted by Ahmad @ Saturday, March 20, 2004
 
TAUHID
Bismilahirrahmaanirrahiim

Secara etimologi, Tauhid adalah menunggalkan/mengesakan
secara terninologi, Tauhid berarti mengesakan Allah baik dari dzat, sifat dan af'alnya Allah. (secara I’tiqodi)

Secara Amali, Tauhid terbagi menjadi 3 bagian:
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Mulkiyah
3. Tauhid Uluhiyah
(buka ! QS. 114: 1-3)

Tahudi rububiyah sesuai dengan makna kata dasar-nya yakni Rabb, berarti "
1. pencipta QS. 10 : 3
2. Pendidik/pembimbing QS. Al-Alaq, 96: 1 - 5
3. Pemelihara QS: 12: 23
4. Pemeberi Rizki dam pengaturannya QS. 10:31-32
5. Penguasa QS. 45:36-37
6. Pembuat Undang2 Qs. 7 : 54

Dari penjelasan diatas bahwa rabb bermakna sangat luas bahkan merupakan sebuah sistem hidup manusia.

Manifestasi dari tauhid rububiya ini adalah meyakini bawa satu2 aturan/hukum/undang2 adalah Al-Quran sebagai jalan hidup/pedoman hidup/petunjuk hidup.

Orang yang bertauhid rububiyah dengan sendirinya akan mengakui satu2nya hukum/undang2 yang mesti di bela adalah undang Allah:alquran, bukan produk manusia, bukan uu sisdiknas dlsb.

orang yang meyakini ini tapi dia juga meyakini/mendukung/membela uu/hukum/aturan selain Allah, baik secara sadar ataupun tidak sadar, baik secara langsung ataupun tidak langsung maka orang ini telah musyrik Rububiyah.

karena konsekwensi dari tauhid ini adalah pembelaan hukum/undang/aturan Allah untuk di tegakkan tanpa mencampuradukannya dengan hukum2/undang/aturan yang lain, inilah yang disebut dengan mukhlisinalahuddin(memurnikan dien Allah)atau Tauhid itu sendiri,

Kongkritnya hari ini adalah sejauhmana kita bener2 menjadikan al-quran ini satu2nya undang-undang Allah sebagai aturan hidup kita yang mesti kita perjuangkan dan bener2 dibela! apapun konsekwensinya.
(mati/dibunuh, diasingkan/terasing, buru/dikejar-kejar, dipenjara, QS. 8:30)

Wallahu'alam,

To be continue…

- posted by Ahmad @ Saturday, March 20, 2004
Monday, March 01, 2004
 
RIHLAH
RIHLAH 29 Pebruari 2004
di Adakan oleh KCMyQ Bandung (komunitas Chatter MyQuran Bandung - server Webnet) di Situ Lembang Bandung

Yang Hadir :
Gunawan dari Bandung
Sam2 Usama (airfoil777) dari Bandung
Lukman (aladin) dari Bandung
Heri dari bandung
Nobelia C (AisyahPutri^_^) dari Bandung
Teni Indah S (green_sinai) dari Bandung (walaupun hanya breefing aja di UPI)
Mangdin (Samsudin) dari Jakarta
Edhipur (mas Edi) dari jakarta
Nurjanah dari Jakarta


Acara :
~ Rihlah
~ Riyadhoh
~ Muhasabah/evaluasi & sedikit Taujih
~ Ramah tamah
~ Poto-poto

Kesan:
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar ...
Itu kiranya yang bisa Kami ungkapkan selama perjalanan/RIHLAH ke Situ Lembang, walaupun sayang tidak banyak yang ikut, but justru dengan hanya 8 orang kami lebih merasakan makna perjalanan ini. Karena tidk menjamin banyakan bisa lebih bermakna.

Intermezzo:
Banyak hal-hal terjadi selama perjalanan, ternyaya kami bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya kalo sudah di alam terbuka, dan lucunya ada yang takut sama ulet bulu :)) tappi sssssssssssttttttttttt ini rahasia ya?
kami lebih akrab ternyata kalo sudah ada di alam bebas di mana kamuflase diri sudah tak terhijab lagi kami bisa saling tafahum dan subhanallah begitu indanhnya ukhuwah padahal walaupun kami baru ketemu sekali, terutama ana dengan mang din dan edhipur tapi kami seperti yg sudah lama ketemu.:)
Pas Awal pemberangkatan kita lewat vila2 wach begitu indanya dan kami poto2 di sana loh lihat aja nanti ya? kalo dach jadi:)

Makan-makan (ramah tamah)
Tahu gak sih loh...(hehe:D kayak iklan aja) kita makan2di pinggir situ lembang sambil menikmati indahnya alam kita juga menikmati makan siang yang dach dari selama perjalan diprotes terus tuk istirahat makan.
but subhanallah nikamtanya, Alhamdulillah...:)
ini juga ada potonya entar ya?:)

lalu... pas pulang kita berlomba dengan hujan takut ke hujanan al hasil kami saling ngebut, alias riyadhoh disini bari kelihatan sejauh mana kualitas diri kita, konon katanya kuatnya jasad kita dikarena jiwa ini yg kuat. karena Allahlah yang dapat menguatkan kita.

banyak dech yg mau di ceritain tapi...
keterbatasan ana nih dlammenulis af1...
yang jelas ntar lihat di dokumentasi/foto2nya ya?

wuihhh masih pegel² nih maklum dach lama gak Rihlah seperti ini, :)


- posted by Ahmad @ Monday, March 01, 2004
Wednesday, February 18, 2004
 
DARI BENING AKAL KE BENING HATI

Ada sebuah pertanyaan yang kritis dan menantang dari kaum materialis (sebuah kaum yang mengagungkan/ melihat hasil akhir, kurang lebih seperti itu red) kepada kaum beragama. Mereka menyatakan bahwa Tuhan itu tidak mungkin ada karena menurut mereka itu tidak masuk akal, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar atau dicerna secara pemikiran. Atas pertanyaan dan pernyataan mereka itu Al-quran telah menantang kaum mujadilun tersebut dengan ayat-ayat seperti Q.S. 16:125 : " serulah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik . sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" Nah, yang menjadi pertanyaan bagi kita bagaimana kita bisa sampai pada daya dan kekuatan untuk memahami adanya sang Kholiq? Karena bagi sebagian orang dengan pernyataan kaum materialis tadi akan berfikir "….wah enya..nya!…" jika sudah sampai pada perkataan itu bisa sangat berbahaya untuk kesehatan jiwa kita. Perhatikan, apakah anda bisa melihat Allah? Tidak kan? Apakah anda bisa mendengar Allah? Tidak jugakan? Bagaimana dengan pemikiran anda? Mmm..rumitkan? Lalu apakah mereka benar? Tidak sahabat, mereka salah!! Karena mereka tidak melihat Allah dengan hatinya karena mereka juga tidak mendengasr Allah dengan jiwa nya mereka pun mencerna keberadaan Allah dengan adat kebiasaan manusia tidak dengan Akal (Nurul latifun ruhaniun Rabbaniun,red) "mereka itulah yang ahti mata dan pendengarannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai" (Q.S. 16:108)

Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita harus mempelajari ilmu yang paling mendasar dalam islam, yakni : ilmu Aqidah. Aqidah adalah ilmu ma'rifat untuk mengenal lebih dalam akan Allah dan Rosul-Nya. Aqidah merupakan pedoman dasar (al-asas) dalam bangunan islam. Oleh karena itu para ulama sangat keras dan hati-hati dalam membahas dan membahasakan aqidah ini karena kesalahpahaman terhadap aqidah akan menyebabkan kefatalan dalam keimanan. Dilihat dari segi pengertiannya atau definisi Aqidah adalah ikatan yang kuat seorang hamba dengan Tuhannya yang lahir dari suatu perjanjian yang sungguh-sungguh dan menuntut adanya pelaksanaan, dipentingkan dan dipelihara dan ditujukan hanya kepada Alloh semata. Seperti tersirat dalam Q.S 9 : 24 "katakanlah, 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum kerabat mu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah, Rosul dan dari berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pasik".

Manusia, makhluk tersempurna yang diciptakan Allah (Q.s. 95:4) telah diberikan alat untuk menghantarkan keimanan yang haqiqi. Alat itu berupa potensi internal yaitu sama, bashar dan qolb. Manusiamempunyai nilai lebih dari pada binatang karena denghan pemberdayaan sama dan basharny, akalnya dapat berfungsi dengan baik. Perlu juga kita ketahui bahwasanya akal kita terbagi atas dua bagianyaitu:
1. Akal thobi'I yaitu akal yang mempunyai daya kemampuan untuk menghasilkan tujuannya, tapi tidak dapat mengerti terhadap adanya sang Wajibul Wujud (Allah)
2. Akal ghorizi yaitu akal yang mempunyai daya kekuatan untu mengerti kepada adanya Allah.
Keyakinan yang mantap akan sesuatu mempunyai proses dari penangkapan objek (al-hisi wal histaro), pendeskripsian (al-khoyaliah), pemahaman (wohmiyah), penyimpanan (al-hafizu). Dalam hal ini para mutakalimin menyatakan bahwa untuk mencapai 'itiqod bil qolb seorang mukalaf (orang yang telah sempurna akalnya) harus ber'itiqod bil aqli terlebih dahulu, Artinya, untuk bisa mencapai tingkatan penyerahan hati yang sempurna terhadap Allah. Hati yang basah dengan kata lain bening hati maka seseorang itu harus mengetahui (memahami) secara teori terlebih dahulu. Sebagai satu ilustrasi sederhana, bagaimana kita yakin objek A jika kita tidak mengetahui secara akurat objek A tersebut. Jadi 'itikod bil qolb akan sangat berbahaya bila hal yang kita yakini belum ter-tanjih (tersucikan) atau tidak sesuai dengan informasi dari Alloh dan rosul-Nya. Al-quran mengingatkan kita untuk tidak berbertaqlid dalam keimanan. "dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban"., tetapi keimanan harus dinamis menuju keimanan yang lebih dalam dengan ditopang bukti-bukti (dalil-dalil) atau keterangan-keterangan yang kuat dan akurat yang bisa diyakini bukan hanya sekedar dugaan-dugaan semata. Bahkan seorang umar sekalipun pernah ditegur oleh Rosulullah ketika Umar meniru apa yang dilakukan Rosulullah begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu. Kesalahan mengidentifikasi objek (seperti contoh :A) akan mengakibatkan kesalahan yang fatal. Dalam Q.S 29:21 Allah mencontohkan : "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menggerakkan matahari dan bulan niscaya mereka akan menjawab "Allah". Secara jelas mereka mengakui Alloh lah yang menciptakan tetapi dalam kehidupan sehari hari antara pengetahuan mereka tentang Alloh dan rosul tidak sesuai dengan realita keseharian. Mereka cenderung untuk mengikuti aturan-aturan nenek moyang (Q.S. 2 :170)

Dalam sebuah bukunya DR. Yusuf Qordhowi (Menghidupkan manusia Rabbaniah dan ilmiah, 1995) menulis.
" para ulama akal sebagai penyebab taklif, inti pahala dan siksa, mereka juga menetapkan bahwa akal merupakjan dasar naql, sebab jika keberadaan Allah tidak dikuatkan akal dan kebenaran nabi tidak dikuatkan dengan akal maka wahyupun tidak akan dikuatkan oleh akal…"
berangkat dari sini para peneliti dari kalangan ulama islam menetapkan, bahwa iman orang yang bertaqlid secara utuh tidak akan diterima. Sebab dia melandaskan imannya kepada keterangan penguat, tidak didasarkan kepada hujjah yang nyata dan hanya kepada taqlid semat".
Akhirul kalam, maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim yang mukallaf untuk mendaya gunakan akal dan hati yang telah diberikan Allah kepada kita semua untuk mencapai iman yang tertinggi yakni iman haqiqotul hoqiqot. Adrie M. S (ketum FKII, forum kajian islam ilmiah)

- posted by Ahmad @ Wednesday, February 18, 2004
 
Dari bening akal ke bening hati

Ada sebuah pertanyaan yang kritis dan menantang dari kaum materialis (sebuah kaum yang mengagungkan/ melihat hasil akhir, kurang lebih seperti itu red) kepada kaum beragama. Mereka menyatakan bahwa Tuhan itu tidak mungkin ada karena menurut mereka itu tidak masuk akal, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar atau dicerna secara pemikiran. Atas pertanyaan dan pernyataan mereka itu Al-quran telah menantang kaum mujadilun tersebut dengan ayat-ayat seperti Q.S. 16:125 : " serulah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik . sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" Nah, yang menjadi pertanyaan bagi kita bagaimana kita bisa sampai pada daya dan kekuatan untuk memahami adanya sang Kholiq? Karena bagi sebagian orang dengan pernyataan kaum materialis tadi akan berfikir "….wah enya..nya!…" jika sudah sampai pada perkataan itu bisa sangat berbahaya untuk kesehatan jiwa kita. Perhatikan, apakah anda bisa melihat Allah? Tidak kan? Apakah anda bisa mendengar Allah? Tidak jugakan? Bagaimana dengan pemikiran anda? Mmm..rumitkan? Lalu apakah mereka benar? Tidak sahabat, mereka salah!! Karena mereka tidak melihat Allah dengan hatinya karena mereka juga tidak mendengasr Allah dengan jiwa nya mereka pun mencerna keberadaan Allah dengan adat kebiasaan manusia tidak dengan Akal (Nurul latifun ruhaniun Rabbaniun,red) "mereka itulah yang ahti mata dan pendengarannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai" (Q.S. 16:108)

Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita harus mempelajari ilmu yang paling mendasar dalam islam, yakni : ilmu Aqidah. Aqidah adalah ilmu ma'rifat untuk mengenal lebih dalam akan Allah dan Rosul-Nya. Aqidah merupakan pedoman dasar (al-asas) dalam bangunan islam. Oleh karena itu para ulama sangat keras dan hati-hati dalam membahas dan membahasakan aqidah ini karena kesalahpahaman terhadap aqidah akan menyebabkan kefatalan dalam keimanan. Dilihat dari segi pengertiannya atau definisi Aqidah adalah ikatan yang kuat seorang hamba dengan Tuhannya yang lahir dari suatu perjanjian yang sungguh-sungguh dan menuntut adanya pelaksanaan, dipentingkan dan dipelihara dan ditujukan hanya kepada Alloh semata. Seperti tersirat dalam Q.S 9 : 24 "katakanlah, 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum kerabat mu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah, Rosul dan dari berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pasik".

Manusia, makhluk tersempurna yang diciptakan Allah (Q.s. 95:4) telah diberikan alat untuk menghantarkan keimanan yang haqiqi. Alat itu berupa potensi internal yaitu sama, bashar dan qolb. Manusiamempunyai nilai lebih dari pada binatang karena denghan pemberdayaan sama dan basharny, akalnya dapat berfungsi dengan baik. Perlu juga kita ketahui bahwasanya akal kita terbagi atas dua bagianyaitu:
1. Akal thobi'I yaitu akal yang mempunyai daya kemampuan untuk menghasilkan tujuannya, tapi tidak dapat mengerti terhadap adanya sang Wajibul Wujud (Allah)
2. Akal ghorizi yaitu akal yang mempunyai daya kekuatan untu mengerti kepada adanya Allah.
Keyakinan yang mantap akan sesuatu mempunyai proses dari penangkapan objek (al-hisi wal histaro), pendeskripsian (al-khoyaliah), pemahaman (wohmiyah), penyimpanan (al-hafizu). Dalam hal ini para mutakalimin menyatakan bahwa untuk mencapai 'itiqod bil qolb seorang mukalaf (orang yang telah sempurna akalnya) harus ber'itiqod bil aqli terlebih dahulu, Artinya, untuk bisa mencapai tingkatan penyerahan hati yang sempurna terhadap Allah. Hati yang basah dengan kata lain bening hati maka seseorang itu harus mengetahui (memahami) secara teori terlebih dahulu. Sebagai satu ilustrasi sederhana, bagaimana kita yakin objek A jika kita tidak mengetahui secara akurat objek A tersebut. Jadi 'itikod bil qolb akan sangat berbahaya bila hal yang kita yakini belum ter-tanjih (tersucikan) atau tidak sesuai dengan informasi dari Alloh dan rosul-Nya. Al-quran mengingatkan kita untuk tidak berbertaqlid dalam keimanan. "dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban"., tetapi keimanan harus dinamis menuju keimanan yang lebih dalam dengan ditopang bukti-bukti (dalil-dalil) atau keterangan-keterangan yang kuat dan akurat yang bisa diyakini bukan hanya sekedar dugaan-dugaan semata. Bahkan seorang umar sekalipun pernah ditegur oleh Rosulullah ketika Umar meniru apa yang dilakukan Rosulullah begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu. Kesalahan mengidentifikasi objek (seperti contoh :A) akan mengakibatkan kesalahan yang fatal. Dalam Q.S 29:21 Allah mencontohkan : "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menggerakkan matahari dan bulan niscaya mereka akan menjawab "Allah". Secara jelas mereka mengakui Alloh lah yang menciptakan tetapi dalam kehidupan sehari hari antara pengetahuan mereka tentang Alloh dan rosul tidak sesuai dengan realita keseharian. Mereka cenderung untuk mengikuti aturan-aturan nenek moyang (Q.S. 2 :170)
Dalam sebuah bukunya DR. Yusuf Qordhowi (Menghidupkan manusia Rabbaniah dan ilmiah, 1995) menulis.
" para ulama akal sebagai penyebab taklif, inti pahala dan siksa, mereka juga menetapkan bahwa akal merupakjan dasar naql, sebab jika keberadaan Allah tidak dikuatkan akal dan kebenaran nabi tidak dikuatkan dengan akal maka wahyupun tidak akan dikuatkan oleh akal…"
berangkat dari sini para peneliti dari kalangan ulama islam menetapkan, bahwa iman orang yang bertaqlid secara utuh tidak akan diterima. Sebab dia melandaskan imannya kepada keterangan penguat, tidak didasarkan kepada hujjah yang nyata dan hanya kepada taqlid semat".
Akhirul kalam, maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim yang mukallaf untuk mendaya gunakan akal dan hati yang telah diberikan Allah kepada kita semua untuk mencapai iman yang tertinggi yakni iman haqiqotul hoqiqot. Adrie M. S (ketum FKII, forum kajian islam ilmiah)

- posted by Ahmad @ Wednesday, February 18, 2004
Friday, February 13, 2004
 
RENUNGAN PEJUANG .....

Dalam sebuah obrolan santai depan rumah, terungkap satu masalah yang sepertinya sangat dekat dengan pendengaran kita. Keboborokan moral para pemimpin negeri ini. Wah serem pisan. Dalam obrolan itu dilontarkan perkataan dari seorang pentolan Ikwanul Muslimin, kalau tidak salah Abu Rosyad, bahwa indonesia terpuruk seperti ini bukan karena orangnya bodoh dalam artian tidak memahami ilmu ekonomi atau tidak bisa hitung tetapi kebanyakan orang Islam ini sudah musyrik rububiyah. Wow..serem lagi.
Dalam ceramahnya di IAIN Sunan Gunung jati itu, beliau menjelaskan mengapa disebut musyrik rububiyah? Karena pemimpin negeri ini kebanyakan orang Islam tetapi mereka bukannya melaksakan aturan Alloh secara total melainkan memakai acuan lain pula.
Ya seperti itulah kurang lebih yang dikatakan beliau. Diwaktu lain penulis pun mendengar siaran langsung dari da'i kondang Aa Gym bersama keluarganya. Saat itu Aa Gym bertanya kepada salah satu anaknya dengan pertanyaan yang tidak jauh berbeda dengan pertanyaan diatas. Lalu terlontar dari mulut sanga anak " mungkin ibadahnya belum benar" katanya sambil disambut dengan tertawa dari Aa dan istri.
Nah ternyata walaupun mungkin tidak terlalu mewakili, terpuruknya negeri ini bukan oleh miskinnya orang indonesia karena ternyata masih banyak mall yang berdiri dan akan diberidirkan, perumahan elit makin banyak, di televisi uang dihamburkan dalam jumlah yang tidak sedikit. Atau ternyata Indonesia yang katanya jatuh miskin (krisis Moneter) masih mampu membeli sebuah pesawat tempur. Presidennya masih bisa terbang keliling dunia.
Jadi apanya yang salah? Jika disimpulkan baik dari anaknya Aa Gym mau pun Abu Rosyad maka intinya adalah kurangnya pemahaman terhadap Islam, sehingga cenderung mengabaikan sisi ruhiah dari sebuah penggalan perjalanan hidupnya. Akhirat, kiamat benar-benar menjadi cerita saja yang kurang mencekam dibanding ceritanya pa Leo dalam percaya nggak percaya.
Proses memahami ini tidak bisa tidak harus ditempuh melalu pendidikan formal atu pun non formal keagamaan. Salah satunya madrasah. Bukan bohong jika kita katakan jika tidak cepat berganti generasi yang lebih baik maka negeri ini akan lebih cepat hancurnya.
Nah sekarang apakah saudara-saudara, ibu dan bapak, saudara/i semua pembaca yang budinam masih akan tetap mengabaikan dan menomerduakan pendidikan agama? Jika ya, tunggulah kehancurannya. [ali_haqie]

- posted by Ahmad @ Friday, February 13, 2004

Powered by Blogger